Thursday, January 19, 2012

China Studies Major University of Indonesia Proudly Presents:Sinofest XI

"Chinese culture is not a PART of Indonesian culture, it is one of the forming element of Indonesian culture itself." -Dr.Priyanto Wibowo M.Hum, lecturer of China studies major in University of Indonesia-

China Studies major of University of Indonesia proudly presents Sinology Festival XI, widely known as Sinofest XI, Festival of Indonesian-Chinese Culture and Culinary.

Sinology Festival is our annual event, and this year we are focusing on the culture and culinary of Indonesian-Chinese people . This year Sinofest will be held on 19th-21st April, and will take place in University of Indonesia's campus in Depok.

Events are as written on poster above. Registration for contests and bazaar is opened already. All of you are welcomed to join. There are going to be workshops and seminars as well, so make sure to mark your calendar so you won't miss Sinofest.

For further info contact Atika 08568561466 or Ivana 085719479914. Godspeed.

Saturday, January 14, 2012

C.I.N.A

This is a short story I wrote for my final assignment in Popular Writing Class. I hope you would enjoy it and tell me how it is.

C.I.N.A

“Kamu tahu apa yang paling ditakuti orang di dunia ini?”

“Hmm, senjata api? Nuklir? Wabah?”

“Bukan, bukan tiga-tiganya. Kamu tahu apa?”

Aku yang mulai bosan dengan pertanyaannya yang berulang-ulang ini kemudian hanya menggeleng pelan sambil memasang ekspresi ‘wow aku sangat tertarik dengan apa yang sedang kau bicarakan’ terbaikku.

“PENA,” ucapnya perlahan dengan nafas yang sedikit ditahan. Mungkin untuk mendapatkan efek dramatis, entahlah aku tak tahu. Yang pasti sekarang aku merasa canggung. Aku datang untuk diwawancara, bukan untuk mendapatkan kuliah dari Mario Teguh KW Super ini.

Biar kujelaskan lebih dulu bagaimana situasiku sekarang. Umurku 21 tahun, bulan lalu aku baru saja lulus dari sebuah universitas ternama di Jakarta dengan nilai yang tidak cum laude, namun bisa dibilang cukup memuaskan untuk ukuran seorang mahasiswa yang hanya belajar jika keesokan harinya ada ujian. Sedari SMA aku memang tidak pernah suka mengulang pelajaran di tempat lain selain di kelas. Menurutku, belajar ya di kelas, keluar dari kelas kau tidak boleh belajar. Yang harus kau lakukan adalah melakukan hal-hal yang bisa membuatmu melupakan kepenatan belajar di dalam kelas. Bagiku, hal itu adalah menulis.

Aku sudah mulai menulis sejak lama. Tulisan pertamaku yang bisa kuingat adalah surat cintaku kepada teman sebangkuku di Sekolah Dasar. Namanya Ami. Pipinya selalu bersemu merah ketika tersenyum. Bau minyak kayu putih selalu tercium samar-samar menguar dari tubuhnya. Anehnya, aku suka bau itu. Bau itu mengingatkanku pada bau nenekku di kampung yang sudah berusia 70 tahun. Setelah itu aku terus menulis banyak hal. Puisi, cerpen, artikel, sampai surat opini. Namun, bodohnya tidak ada satu pun dari karya tulisku itu yang kuperlihatkan atau kucantumkan di tempat yang bisa dilihat oleh khalayak. Semua itu hanya tersimpan rapi di rak bukuku, di dalam lusinan buku-buku catatan yang telah menemani waktu-waktu kosongku.

Tersimpan rapi sampai hari ini. Hari di mana aku memutuskan mencoba berjudi dengan nasib, dan melamar pekerjaan di sebuah surat kabar yang bisa dibilang adalah pahlawan masa kecilku. Ya, kalau pahlawan masa kecil anak-anak kebanyakan adalah tokoh di dalam komik atau kartun animasi di televisi, pahlawan masa kecilku adalah sebuah surat kabar. Sebuah surat kabar yang telah memberi makan mulut-mulut di dalam keluarga intiku yang kecil. Ayahku adalah staf humas di surat kabar ini dan pensiun pada saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Ibuku adalah kepala bagian administrasi yang jatuh cinta kepada ayahku, seorang pemuda polos dari kampung yang sama sekali tidak terkontaminasi oleh pikiran-pikiran bulus orang kota. Tiap hari ayahku akan membawa pulang surat kabar gratis, dan kami bertiga selalu antri untuk membacanya. Kemudian, 21 tahun kemudian, di sinilah aku, duduk di ruangan kecil ber-AC ini, menyiapkan hati dan mental untuk apa yang akan kuhadapi selanjutnya. Laki-laki yang jika dilihat dari penampilannya itu sepertinya lebih tua dua kali lipat dariku, kembali melanjutkan pidato kecilnya.

“Ya, sudah bertahun-tahun, berdekade-dekade, dan bahkan, berabad-abad, manusia menggunakan pena sebagai senjata andalannya. Sartre, Lu Xun, Li Bai, Kant, Gie, dan beribu-ribu nama lainnya menggunakan pemikiran dan tulisan untuk mengubah dunia. Bukan senjata. Bukan nuklir!” gaya bicara laki-laki ini seperti tokoh-tokoh dalam film-film, dengan ekspresi yang hidup, mata berbinar-binar, dan tangan yang selalu aktif bergerak mengikuti intonasi suaranya. Saat ia ingin agar kata-katanya lebih hidup dan berapi-api, ia membelalakkan matanya lalu menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah. Ini mengingatkanku pada film-film mafia Itali di mana para tokohnya sering menggerak-gerakkan tangannya seperti sedang mengukur sesuatu.

“Dan itulah yang menginspirasi surat kabar ini untuk bisa menjadi seperti sekarang ini. Pena,” ujarnya dengan nada konklusif yang menyiratkan kepuasan akan apa yang telah dia sampaikan kepadaku selama setengah jam terakhir.

“Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kamu siap atau tidak menjadi pewarta Pena. Seorang jurnalis harus menyajikan suatu kebenaran tanpa distorsi apapun, tidak peduli situasi apapun yang sedang dihadapinya. Ia harus menjadi terang di antara yang benar dan yang salah.”

Bekerja di Pena merupakan impianku sejak kecil, dan harus kuakui apapun yang laki-laki ini lakukan, ia telah melakukannya dengan baik. Ia berhasil menantang hati nurani kecilku untuk menjadi yang sesuatu yang lebih dari aku yang sekarang. Aku mengangguk dengan perlahan namun pasti.

“Bagus, nak. Saya sudah membaca dua karyamu yang kamu kirimkan via pos. Saya tahu ayahmu. Yang harus kamu ingat adalah, bukan karena ayahmu kamu bisa diterima bekerja di sini, namun karena dua bundel kertas yang kamu kirimkan ke saya minggu lalu. Dua-duanya luar biasa.”

Aku mencerna kata-katanya sebentar, lalu bertanya dengan ragu-ragu. “Jadi..maksud Bapak, saya diterima bekerja di Pena?”

“Selamat datang di Pena, nak,” ucap Pak Candra, itulah nama si Bapak ini, dengan senyum lebar di wajahnya dan tangan yang terbuka, menyambutku masuk ke dalam keluarga Pena.

Hal selanjutnya yang kuingat adalah aku berlari pulang ke rumah, berteriak memanggil ibuku, memeluknya dan setelah itu aku masuk ke kamarku, menutup pintu dan berlutut. Kupejamkan mata, kuhirup nafas dalam-dalam dan mulai berbicara dengannya. Terima kasih untuk segalanya, Yah. Ayah memang selalu tahu yang terbaik untuk Wisnu. Wisnu akan selalu berpegang pada cita-cita Ayah. Menulis untuk mengubah dunia. Pasti.

Seminggu pertama aku bekerja, Pak Candra sudah mengutusku ke berbagai tempat di Jakarta dan Pulau Jawa untuk meliput. Hal pertama yang kuliput adalah peluncuran buku seorang penulis wanita yang cukup kontroversial. Selanjutnya hari-hariku dipenuhi dengan tugas meliput kegiatan-kegiatan seni dan budaya. Setelah sebulan bekerja, Pak Candra mulai mempercayaiku untuk merambah ke bidang lainnya yang telah kuidam-idamkan sejak dulu, Ekonomi dan Politik. Krisis finansial Asia, peningkatan inflasi, sampai akuisisi sebuah bank ternama di dunia, dipercayakan oleh Pak Candra untuk kuliput. Aku merasa seperti di atas awan. Inilah pekerjaan yang sedari dulu kuimpikan. Bukan hanya mencintai apa yang kita kerjakan, namun juga mengerjakan apa yang kita cintai!

Sampai suatu hari Pak Candra memasuki ruangan kantor dengan muka asam. Kami para jurnalis yang sedang sibuk menulis meliriknya sambil bertanya-tanya dalam hati tanpa ada yang berani mengungkapkan apa yang kami pikirkan. Ia berhenti sebentar di tengah ruangan, menyibakkan rambutnya ke belakang, menutup mata, lalu bertahan dalam pose itu selama beberapa detik sebelum menghela nafas panjang dan kemudian memanggilku.

“Wisnu, masuk ruanganku lima menit lagi ya.”

“Baik, Pak.” Wajahku menunjukkan ekspresi tenang meskipun hati ini sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Rekan-rekanku yang lain juga melemparkan pandangan penuh tanya ke arahku yang hanya kubalas dengan mengangkat bahuku sedikit. Setelah mengetik satu paragraf, aku pun bangkit dan berjalan menuju pintu ruangan Pak Candra.

“Masuk, Wis.” Lalu ia mengisyaratkanku untuk duduk.

“Kita tidak bisa menulis hal-hal seperti kemarin lagi.”

“Maksud Bapak? Seperti artikel penggelapan uang yang saya tulis kemarin?” Pak Candra tidak menjawab pertanyaanku, namun aku tahu diamnya itu berarti iya.

“Tapi itu memang kenyataan, Pak. Itu yang saya dapat dari hasil wawancara dan observasi saya! Kalau itu tidak saya tulis, itu sama saja dengan membelokkan fakta, Pak!”

“Iya, saya tahu. Saya sudah menjadi wartawan lebih dulu dan lebih lama dari kamu. Saya tahu betul tentang itu, Wisnu.” Pak Candra berhenti sebentar, mengambil kotak rokok bergambar Mao Zedongnya dan menyulut sebatang rokok.

“Kamu tahu betapa sulitnya kakek saya dulu membangun surat kabar ini?” Aku menggeleng.

“Sulit sekali bagi orang Tionghoa yang tinggal di sini untuk membuka sebuah perusahaan surat kabar. Bukannya kenapa-kenapa, tapi uang. Birokrasi selalu meminta uang yang lebih dan lebih lagi. Mereka pikir semua orang Cina pasti kaya. Surat kabar ini pernah nyaris bangkrut kamu tahu? Ayah saya dulu pernah menulis artikel yang menyinggung beberapa pihak, kemudian Pena ditutup selama tiga bulan sampai akhirnya Kakek saya membayar uang tebusan Ayah. Untuk menjalankan Pena kembali pun, masih saja dibutuhkan ini lagi,” cerita Pak Candra sambil membuat gerakan isyarat ‘uang’dengan tangannya.

“Bapak..keturunan Cina?”

“Tionghoa, Wis. Tionghoa. Kakek dan ayah saya, bisa mencak-mencak kalau dengar kata itu. Cina. Mereka berdua sepertinya sudah sakit hati sekali dengan kata itu. Korban rasisme mereka dulu,” Pak Candra tertawa kecil, membuang puntung rokoknya ke asbak, dan mulai menyulut batang yang kedua.

“Eits, maaf, kamu mau?” ia menyodorkan kotak rokoknya kepadaku. Aku menggeleng pelan. Pak Candra pun melanjutkan ceritanya lagi.

“Tapi kalau saya sih sudah bukan Cina lagi. Keturunan sih iya, cuma kamu lihat lah muka saya ini. Mata belo, kulit coklat, rahang macam orang Batak. Sering dikira orang Batak saya ini. Kebetulan pula aku ini orangnya senang ngerjain orang. Suka kali aku ngomong pake logat Batak macam ini. Bah!,” Pak Candra tertawa dan aku juga ikut tertawa.

“Ibuku orang Cina-Flores, ayahku Cina totok dari Bangka-Belitong. Ibuku orang pertama yang membuat Ayah yakin bahwa perbedaan itu indah. Ada untuk dihargai, bukan untuk diinjak-injak. Manusia itu tidak boleh dikotak-kotakkan, kau tahu Wis? Kadang mereka lebih baik diplastikkin.” Lelucon Pak Candra yang terasa kering mau tak mau membuatku tertawa.

“Intinya,” pak Candra mengangkat satu telunjukknya dengan telapak tangan menghadap ke arahku. Nada bicaranya kembali serius. “Intinya, aku masih punya keluarga yang harus kutopang. Apa kata anak istriku nanti kalau aku pulang membawa barang-barang dari kantor karena kantornya terpaksa harus ditutup? Mulai sekarang kita tidak akan menulis hal-hal seperti kemarin lagi. Kalau memang yang kita temukan adalah borok, ya tulis yang bagus-bagus saja, buang boroknya. Atau tidak usah kita tulis sama sekali saja.” Aku terdiam sebentar meresapi kata-katanya.

“Tapi pak, apa kata anak Bapak saat ia sudah besar nanti, dan ia menemukan bahwa ayahnya hanyalah bentukan atau ‘pesanan’ birokrasi?”

“Maka akan kuceritakan yang sesungguhnya, sehingga anakku tidak akan berakhir seperti bapaknya.”

Idealisme lawan Realita. Pak Candra sang idealis yang ingin menjadi lilin di antara kegelapan akhirnya tunduk menyerah pada kenyataan. Ini seperti menonton film superhero dengan sebuah akhir yang menyedihkan. Namun Wisnu bukan Pak Candra. Aku tidak akan menyerah pada mereka yang ada di atas! Kekuasaan ada di dalam pena dan tulisan, bukan di dalam uang! Aku terus menuliskan tentang kebobrokan birokrasi meskipun Pak Candra telah melarangku. Setelah tulisan-tulisan itu terbit dan masuk ke dalam surat kabar, toh Pak Candra pun tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Seorang penjaga sel membawa senapan berburu panjang membuka pintu sel. Di belakangnya dua orang pria dengan setelan rapi dan berjas putih panjang, sepertinya dokter, menatapku dengan teliti. Penjaga sel mempersilakan kedua dokter itu masuk, menutup pintu lagi, dan berdiri di depan pintu memperhatikan kami dengan seksama.

“Halo, Candra.”

“Aku bukan Candra! Aku Wisnu!”

Kedua dokter itu saling berpandangan. Yang satu yang sepertinya terlihat lebih muda, menjelaskan situasinya kepada dokter yang lagi yang kira-kira berusia empat puluh tahun.

“Candra Indra Natama Anggara adalah kasus kita yang cukup spesial, Dok. Ia mempunyai seorang ‘teman’ bernama Wisnu, yang sifatnya merupakan kontradiksi dari Candra. Sejauh analisis kami, Wisnu muncul dari tekanan yang dialami Candra. Wisnu adalah bentuk pemberontakan seorang Candra. Karena pemberontakan seorang Wisnu, maka sekarang mereka berdua ditahan di sel ini. Yang sedang kami coba yakinkan kepada para juri dan hakim adalah terdakwa memiliki penyakit jiwa yang menyebabkannya tidak bisa membedakan kenyataan. Dan seperti yang Dokter lihat tadi, yang ada di depan kita sekarang adalah Wisnu.”

“Apa yang kalian bicarakan? Aku memang Wisnu! Pak Candra tidak ada di sini! Ia telah kalah! Ia bebas bersenang-senang di luar sana dengan para orang kaya itu, sementara aku di sini menang! Biarpun aku terkurung, tapi aku menang! Aku akan terus menulis sampai tanganku lumpuh. Tidak, bahkan setelah tanganku lumpuh, aku akan menulis dengan mulut. Kalau mulutku lumpuh, akan kutulis dengan kaki!”

“Namamu bukan Wisnu. Kamu adalah Candra Indra Natama Anggara. Kalau kamu tidak percaya kamu boleh lihat papan itu,” dokter yang lebih tua mengisyaratkanku supaya melihat ke papan putih yang digantung di kaki tempat tidurku. Di atas papan itu tertulis,

Nama: C.I.N.A

Tanggal: 21-02-1991

Penyakit: Skizofrenia/Gila

Monday, January 2, 2012

Happy Nu Yeah 2012!

Just another year..just another number..just another celebration..they all wouldn't mean a thing without you..Happy Nu Yeah 2012 fellas! Without 'U' there would be no 'fUn'! Godspeed!





Thursday, December 22, 2011

Lelehkan Hatiku Menjadi Batu



Right under my feet is air made of bricks
Pulls me down turns me weak for you
I find myself repeating like a broken tune
And I'm forever excusing your intentions
And I give in to my pretendings
Which forgive you each time
Without me knowing
They melt my heart to stone

And I hear your words that I made up
You say my name like there could be an us
I best tidy up my head I'm the only one in love
I'm the only one in love

Each and every time I turn around to leave
I feel my heart begin to burst and bleed
So desperately I try to link it with my head
But instead I fall back to my knees
As you tear your way right through me
I forgive you once again
Without me knowing
You've burnt my heart to stone

And I hear your words that I made up
You say my name like there could be an us
I best tidy up my head I'm the only one in love
I'm the only one in love

Why do you steal my hand
Whenever I'm standing my own ground
You build me up, then leave me dead

Well I hear your words you made up
I say your name like there should be an us
I best tidy up my head I'm the only one in love
I'm the only one in love

Tuesday, December 13, 2011

My Thanksgiving Speech

It's almost year-end, and I can't believe all the stuff I've been through this year. Lost my laptop due to my brother's house robbery. My friend's cellphone got nicked when I was borrowing it. Got elected as the head of Ikatan Mahasiswa Sinologi. Meeting new wonderful people from Teater UI and got involved in their big play "Perempuan Pilihan Dewa." Welcoming our new family, Sastra Cina 2011.

And last but not least..had my major won the title of Juara Umum Festival Budaya UI 2011! A total woohoo experience for me and my family of Sastra Cina. There's been a lot of ups and downs this year.

I already have a family, but now it feels like I have a lot of families! I can never be thankful enough to God for sending all these wonderful people to me. Godspeed! <3

The music team in Perempuan Pilihan Dewa

Juara Umum Festival Budaya UI 2011!

Sunday, November 20, 2011

King and Queen of Confusion

Di google translate, galau = confusion. Oke mungkin gue akan ubah jadi kata sifat yaitu confused. And, no other singer is ever more confused than....ADELE. Congrats Adele, you are the Queen of Confusion. Along with John Mayer as the King.



"I heard that your dreams came true. Guess she gave you things I didn't give to you. I hate to turn up out of the blue uninvited, but I couldn't stay away I couldn't fight it, I hope you'd see my face and that you'd be reminded that for me it isn't over."



"It's really over, you made your stand. You got me cryin as was your plan, but when my loneliness is through, I'm gonna find another you."

Monday, November 14, 2011

Omalele! A Sweet Escape

Club Med Bali tampak atas. Yang bangunan bulet di tengah-tengah itu main barnya.

Hello folks! Post kali ini gue akan membicarakan suatu hal yang basi, yaitu cerita summer job gue di Bali. Mungkin waktu itu gue udah pernah cerita ke kalian semua secara singkat tentang pekerjaan magang gue di Bali selama 1 bulan. Kali ini gue akan membahas secara detail sekaligus berbagi pengalaman ke kalian semua.


Tawaran bekerja magang di Club Med datang pada bulan Juni 2011, saat-saat liburan musim panas. Caranya mudah, tinggal kirim CV dan surat lamaran ke HR Club Med di Jakarta, terus lanjut interview. Salah satu teman gue bahkan hanya

ikut interview aja dan langsung dikirim ke Bali. Well, the thing is, in summer and winter holiday they're really packed with guests so they need a lot of interns real bad. Especially interns for Mini Club, salah satu fasilitas yang mereka miliki.

Kasarnya, Mini Club atau MC bisa disebut sebagai tempat nitipin anak para orangtua yang berlibur di sana. Tapi nggak juga sih. CM already provide baby sitters service for that matter. Untuk mendefinisikan MC itu fasilitas yang seperti apa, mungkin lebih tepat kalo dibilang kita itu semacam taman kanak-kanak. MC udah punya jadwal pasti setiap harinya kegiatan apa saja yang harus diikuti anak-anak yang lagi dititipin.

Akhirnya setelah mengikuti prosedur yang berlaku, gue pun dikirim bekerja di Club Med Bali sesuai dengan availibility dates yang gue ajukan, 4 Agustus-4 September. Begitu sampai di sana, gue dan tiga teman UI lainnya, -Andre, Ncek, dan Nadhira- langsung disambut oleh assistant manager MC Bali, Haruka. Doi orang Jepang item manis yang sering banget ngomong 'Ne?' dengan logat khas Jepangnya.

Lobi Club Med Bali. Belok kiri terus ada tangga naik ke teras kecil, nah itu dia tempat Haruka menyambut kami.

Mini Club!

Kami berempat, para Intern GOs (GO itu sebutan buat para karyawan di sana, Gentils Organisateur) baru yang lugu dan polos dibawa keliling kampung. Yeah their concept is somewhat calling the resort 'village', because CM is not an ordinary resort. Here, you don't just come and stay and spend your holiday, but you also get to gain new friends and family. Like you do when you stay in a village. Di bar, kita semua mesen milkshake coklat, dan langsung diketawain sama Manou, bartender asal Mauritius atau Prancis. Entahlah, di sini batas nationality jadi amat kabur.

Di CM, kerjaan gue tiap hari adalah ngejagain bocah-bocah umur 4-7 tahun (kadang switch ke 8-10 sih, fleksibel aja), berenang, makan, main game (archery, basket, mini golf, tennis, etc), mini club show or events, dan seterusnya. Gitu aja diulang-ulang terus tiap hari. Saat lagi ga shift di MC, gue dan para GO lainnya harus melakukan yang namanya GM Contact. Apakah GM Contact itu? Kita tanya Galileo. GM itu sebutan mereka untuk tamu. The point is you have to look for GM yang keliatannya lagi nganggur, nyapa mereka, duduk bareng dan ajak ngobrol. Mungkin kedengaran aneh, but that's just their concept. Their trademark. Their blablabla.

Malamnya, nonton show, ngurusin bocah2 lagi, dan ga jarang kita para GO yang do the heavyliftings alias angkat2 barang. Belom pernah kan angkat-angkat meja yang kayak di taman kanak-kanak gitu plus bangku-bangkunya dalam sekali angkat (gue dan Ncek menyebutnya posisi burger :D), pake high heels + dress, sejauh kira-kira setengah kilo? But I gotta tell you, it gave me a total hiiiigh! Belum lagi kalau responsible clean up main show. Angkat-angkat stage segede-gede gaban bukan masalah lagi bagi para GO. Ga ada perbedaan antara GO cowok atau cewek. Semua pasti bakal kebagian beberes.

Yang pasti menjalani hari di sana, kalau tanpa ditemani teman-teman dan orang-orang yang luar biasa, pasti bakal bikin gue gila. Thanks God for all the wonderful people I met there. Gue mau banget balik lagi ke Club Med, tapi bukan sebagai GO, maunya sebagai GM :P

Kerja di Club Med bikin gue pengen mencari lagi sesuatu yang susah. Bagi gue sendiri magang di Club Med, meskipun amat singkat, tapi gue merasa setelahnya gue pasti bisa get through almost anything. Ga kebayang deh jadi GO contract yang kerja di sana berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. To put on that smile, no matter what you are going through, for me is tough, and the people who can survive there are cougars, coyotes, lions, or whatever other cool wild animals, you name it.

Bangunan kamar. Kamarnya biasa aja sih. Mereka lebih menekankan di keistimewaan konsep resornya itu sendiri.

Poolside yang sumpah enak banget buat nongkrong. Kadang setelah jam kerja gue sama Ncek suka rebahan aja tiduran di salah satu dipannya sambil menatap bintang-bintang Nusa Dua *tsaaaahh*

Beach Bar tempat gue nongkrongin Takuto di hari-hari terakhir gue kerja. Takuto ini bartender Jepang yang kece tapi pemalas. Hahaha. Dan asli, tiduran di salah satu dipan di pinggir pantainya bikin ga pengen kemana-mana.

Gang kamar para GO magang. Ironis ya kalau dibandingin dengan bagian depannya Club Med yang bagusnya ampun-ampunan. Kita nyebut gang ini gang Dolly. Gimana nggak, di sini kebanyakan cewek jadi mondar-mandir cuma handukan bahkan beha+kolor doang uda jadi hal yang biasa. Cowo-cowo yang cuma 2 biji harus bersabar.

Moto utama para GO: Work hard, party hard! Habis of kerja jam 12 malem, bakal ada aja yang ngajakin ke Kuta. Biasanya kalau besoknya day off atau shift B yang masuknya jam 11, gue selalu mau ikut. :D

Abis kerja jam 12, kalau lagi iseng, hangout in front of the night club yang buka jam 12-2 pagi.
Ini kabogohan aing pas magang di Club Med :D Kevin Zhao, Assistant Manager Bar,Virgo, 37, and married. Tapi gue tetep naksir <3 Kata Andre kalau lagi di bar dia galak, tapi biasanya sama cewek-cewek nggak tuh, apalagi yang Chinese speaker. Hihihi.

Ini dia nih yang tercakep seClubMed Bali..Olivier! Wakil kepala kampung, baik dan ramah setengah mati, beda banget ama P*** tuh -__- (oke kayaknya ini internal hehe)

Sheba has the smile that could brighten up the whole room. In my last days there, she and Okta terus menerus ngomelin gue karena kerja gue yang lambat. Hahaha sori dori mori Sheba. I still love her anyways.

This is Okta, maminya gang Dolly. As a Libra, she is bossy and likes to talk a lot. Biar begitu, she has a motherly nature, and always take care of us young GOs.

Semua intern GOs yang baru dateng pasti awalnya sebel sama Gede, abis doi pendiem dan nyeremin. Tapi lama-lama suka ngebanyol dan ngangenin <3

Yoon si Korea gila yang suka ngomong 'Bangsat', 'Anjing', dan seterusnya. Tapi sebenernya doi baik banget.

Me and Nadhira's farewell note to all the remaining GOs. Hope to see you soon!

Tuesday, November 1, 2011

Mencintai Dengan Sederhana

As a student majoring in literature, of course here and then I would be assigned to read some poems, sometimes I even take the initiative to read one or two. It would only be weird if I don't.

Some of you probably been familiar with Chairil Anwar's Aku. Well, I think anyone who was a teenager growing up in 2002-2005 would easily recognize it thanks to Ada Apa Dengan Cinta. Doh. Don't even get me startin on how much people quoted that on Friendster.

Of all the Indonesian poetries I've read, this is one that I like the most. It's 'Aku Ingin' by Sapardi Djoko Damono.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

It's so simple yet so beautifully composed by Mr.Damono (and he's a Pisces too! #TeamPisces :P). The thing with it is I can read it several times after, and still have different interpretation each time. Depends on how I am at that moment. I'm not gonna discuss what impact it has on me, because a poetry has different impact on each person, and from every interpretation you can see how their mind really works. It helps you to know a person. Well, at least for me it does. Now, in whatever I do, I'm gonna try to mencintai dengan sederhana. Godspeed!

Monday, October 10, 2011

Everybody's (Not) Fine


Kemarin gue baru saja nonton sebuah film di Cinemax yang berhasil bikin termehek-mehek. Everybody's Fine. Sebuah kalimat yang sering kita pakai untuk menjawab pertanyaan orang akan kabar kita.


"How are you?"
"I am fine thank you, and you?"
"I am fine too!"

Ya, memang kadang lebih mudah menjawab 'aku baik-baik saja' dibandingkan menjawab 'tidak, aku punya masalah' dan kemudian harus menceritakan panjang lebar tentang keluh kesah kita sehari-hari. Belum lagi harus menghadapi penilaian dan penghakiman orang lain tentang segala sesuatu yang kita perbuat. 'Lo harusnya gini gini gini dong!', 'Yah, coba lo ga kayak gitu, mungkin keadaan ga akan kayak gini', dan seterusnya mungkin adalah kata-kata terakhir yang mau lo denger dari orang lain saat lo bener-bener lagi terpuruk. Kadang-kadang yang kita butuhin memang hanya sepasang telinga yang selalu siap sedia mendengarkan dengan baik, dan sebuah tatapan sayang di akhir cerita disertai dengan sebuah 'sabar ya' yang terucap dengan tulus.

Ya tapi mau gimana lagi? Emang kadang-kadang orang lain udah ga tau mau ngomong apa lagi, mungkin orang-orang gemes ngedenger tingkah laku kita yang membuat mereka berpikir 'yah, lagi lo kenapa gitu sih.' Jadi mungkin keduanya memang diperlukan. Kadang-kadang kita bukan hanya perlu sepasang telinga, tapi kita juga butuh sebuah mulut yang selalu siap 'menampar' kita dengan realita hidup yang sebenarnya tidak terlalu keras, tapi karena hati kita sedang seperti diiris-iris light saber jadi kayaknya keras. Sebuah mulut yang siap membawa kita kembali ke jalan yang seharusnya (belum tentu benar ataupun baik).

Hanya dengan kedua hal tersebut, then everybody would be fine. Godspeed. :)

Sunday, September 11, 2011

Summer Experience :)

Hello folks! Long time no see! How was your summer holiday? Was it good? Splendid? Superb? Well I know mine was! Hehehe. I spent two months of my three-months summer holiday taking a short term class, and the other one working as a part-time GO in Club Med Bali.

Let me explain a bit about my job there. GO is short for Gentils Organisateur. I worked as a Mini Club GO. Club Med has a facility called Mini Club. Mini Club is separated to 4 clubs. Petit Club (2-3 years old), Mini Club (4-7 years old), Kids Club (8-10 years old), and Junior Club (11-17 years old). Our job is basically to take care of the kids who sign in to the club, play and do activities with them. We open at 9 am in the morning till 5.30 pm and open again at 6.50 pm til 9 pm. I deal with the Mini Club kids. It's hard to say which club GOs has the more difficult job because each club has its own ups and downs. With Mini Club, you have to deal with smaller kids who have less responsibilities in life, they probably just learned how to walk and run yesterday. I have to say sometimes it's a pain in the ass to chase them around, some of them JUST WON'T LISTEN! They're like devil in disguise! Heheh. But some of them are really nice and sweet once you got them to come around to you. Somewhere between and after our Mini Club working hours, we have to do GM contact, basically we sit down and mingle with the guests.

In my first week there, I really wanted to go home. I felt like all the people there were awful. The GOs might be smiling to the GMs but with other GOs, sometimes they were just awfuullll. For a newbie like me, it surely did feel like living hell. They expect us to know things around by ourselves, without telling us in advance. Well, of course we're allowed to ask in advance, even some of them would help without us asking, but some just give us a horrible look and explain things to us briefly without further ado (but now that I come to think of it again, aren't all workplace just the same? Haha).

As days went by, I got used to the situation and started to understand that's just the way things are there. Under pressure, of course sometimes you could explode, but there was NO WAY you may explode in front of the guests. So sometimes you misdirect your anger unto your colleagues, and you should understand each other. You work hard, you party hard. At working hours you really work, there are boundaries, rules and everything that tied you altogheter. After working hours, you're just colleagues hanging out and having fun together. I started to grow fond of my colleagues. Now and then, after a week being at home, I even still think about them. What are they doing at this time of day? Oh they're supposed to be having snack by now, oh they're supposed to be having Michael Jackson Show right now, etc. I even pick up a little French, Japanese, and Korean. I can say 'Let's go!' and 'Sit down, please' in six languages now! Ha.

I started to grow fond of Club Med life too. What I really like about Club Med is how it brings hundreds of strangers together, and kinda force us to be friends within seconds. That was actually a fun experience, something I would never do if it weren't for working in Club Med.

Overall, part-timing in Club Med Bali was really fun, and in the future, if they're still willing to accept me, I would totally go back there without further thinking! (+ I kinda left my fav short and my friend's tanktop somewhere in mini club, so I probably SHOULD go back hahaha). Thanks for the fun you gave me, Club Med! Now, let's go back to college with full tank! Godspeed.