Tuesday, May 23, 2017
Aku, Kamu, dan Kopi
Saturday, March 11, 2017
Why Maleficent Should've Been The Right Role Model for Girls
Inilah beberapa alasan mengapa menurut saya, teteh Maleficent tuh pas banget dijadikan panutan bagi para gadis-gadis muda yang lagi kehilangan arah mencari idola. Halah.
1. She is strong and powerful
2. However, she has ALL the right to be vulnerable
3. She takes responsibilities for her actions
Ya, menonton film ini bikin saya merasa puas sih dengan industri film Hollywood. Sepertinya semakin banyak peran putri dongeng yang mencoba "dipugar" dan "direbrand" oleh Hollywood.
Mulai dari Snow White dalam lakon Snow White and The Huntsman, Merida dalam lakon Brave, kakak beradik Elsa dan Anna dalam lakon Frozen sampai Maleficent.
Semua bervisi dan bertema sama, bahwa perempuan tidak memerlukan 'prince charming' untuk bisa survive dalam hidupnya, dan perempuan kuat haruslah saling mendukung satu sama lain.
Di post saya yang sebelumnya, saya pernah membahas mengenai pria penderita Cinderella Complex.
Mungkin pada kesempatan kali ini, post ini hendak saya dedikasikan untuk para kaum Hawa yang mengidap Cinderella Complex.
Because Cinderella ain't freakin' real. In real life, we gotta learn how to be more Maleficent, and how to be less Sleeping Beauty.
Although a long beauty sleep would not hurt once in a while. ;)
Happy belated International Women's Day 2017!
Godspeed!
Wednesday, August 17, 2016
Kemerdekaan Perempuan dari (Pria Penderita) Cinderella Complex
Ga semua cowok suka sama cewek yang terlalu mandiri.."
sampai-sampai bikin gue ngerasa bahwa lo tuh ga butuh gue.."
Kalimat-kalimat di atas adalah salah dua dari beberapa "nasihat" yang pernah diberikan orang kepada saya. Kalimat pertama diucapkan oleh teman baik saya, kalimat kedua diucapkan oleh seorang pria yang pernah lumayan dekat dengan saya.
Well, guess what? Sini saya kasih bocorannya sedikit.
Dengan atau tanpa disadari, para pria ini memiliki hasrat untuk menyelamatkan 'putri yang tak berdaya' dan setelah sang putri menjadi kuat untuk berdikari alias berdiri di atas
Nah.. Sekarang pertanyaannya adalah, kenapa sih kita sebagai perempuan, harus selalu menjadi 'yang lemah' dan 'yang diselamatkan'? Ga bisa dipungkiri sih, ga semua pria Indonesia itu kayak Ne-Yo yang cinta sama ceweknya karena dia Miss Independent. Masih ada beberapa dari mereka yang punya konsep bahwa cewek itu ga boleh pulang malem sendirian, cewek itu ga boleh keseringan naik ojek, cewek itu ga boleh terlalu sering melakukan segalanya sendiri tanpa bantuan laki-laki... Well, fuck that stereotyping!
Because, guess what, dalam masa-masa awal para 'pangeran' ini baru dekat dan baru mulai tertarik dengan sang putri, mungkin dependensi tersebut akan terlihat memikat dan bikin gemes. Tapi hei, para kaum Adam, percayalah, saat kamu menikah nanti, di saat anakmu sakit dan panasnya 39 derajat Celsius, bos kamu tidak memberi izin cuti karena ada kerjaan mendesak, dan kamu bingung harus bagaimana karena istrimu pun tidak dapat diandalkan di tengah segala kemanjaan dan kegalauannya, kamu akan berharap kamu mempunyai istri yang lebih independen daripada seorang bratty princess yang kamu jadikan istrimu itu.
Sebenarnya ini bukan berarti perempuan-perempuan independen itu tidak butuh laki-laki sih. Ya, mereka butuh, hanya saja mereka tidak punya masalah untuk melakukan hal-hal lain tanpa bantuan laki-laki. Bohong pastinya jika ada perempuan yang menolak diantar ke kantor oleh pacarnya, atau dijemput saat sedang hujan deras, atau dibantu membawa dan memindahkan barang-barang yang berat. Ini semua adalah masalah kepekaan dan good manner dari pihak laki-laki. Namun, perempuan itu bukanlah pihak yang harus selalu bergantung kepada laki-laki dalam melakukan segala sesuatu.
Mereka tidak butuh dijemput atau diantar pulang karena mereka tahu rumah kalian jauh dan pastinya akan membuat kalian repot. Mereka menolak bantuan kalian dalam membawa barang-barang yang berat karena mereka masih bisa menanggung bebannya. Mereka tidak memberitahu kalian saat mengalami kesulitan karena mereka tidak mau membuat kalian kepikiran akan masalah-masalah kecil yang masih bisa mereka tangani sendiri.
Bagi para lelaki lemah yang merasa harga dirinya lebih penting daripada segalanya, tindakan-tindakan para perempuan seperti disebutkan di atas akan menjadi suatu ancaman bagi ego patriarki mereka. Ancaman bahwa suatu hari perempuan ini akan melampaui mereka dan lebih berprestasi daripada mereka. Tapi bagi para lelaki yang kuat, hal ini bukanlah suatu masalah.
Coba tengok Barack dan Michelle Obama. Mark Zuckerberg dan Priscilla Chan. Do Barack and Mark have a problem having ass-kicking women in their lives? No, instead that's what makes them fall in love with these women in the first place. They're fearless, independent, and original. Bagi pria-pria seperti Barack dan Mark, mereka tahu betul bahwa perempuan yang kuat akan mendukung kehidupan mereka dengan lebih baik dibandingkan putri lemah yang selalu butuh untuk diselamatkan.
Jadi, sekarang sebagai perempuan, persoalannya bukan harus memilih untuk menjadi independen atau tidak, namun HARUS menjadi independen. Independen dalam berpikir, bertindak, berbicara, tanpa harus menyakiti dan merendahkan orang lain. Ingat, pria itu setara dengan kita. Dengan menjadi independen bukan berarti laki-laki berada di bawah kita, namun kedudukan kita menjadi setara dan saling berbagi peran.
Bagi para lelaki, kekuatan kalian bukan terletak di seberapa bergantungnya perempuan kepada kalian, karena jika kalian benar-benar butuh validasi semacam itu untuk merasa sebagai 'lelaki yang sesungguhnya', maka lebih baik kalian sunat ulang saja. Atau sunat revisi.
Selamat memaknai kemerdekaan menurut kepercayaan masing-masing.
Ambil cucian di rumah Susi, cukup sekian dan terima kasih.
Wednesday, July 6, 2016
Maaf
"Maaf," desahmu pelan.
"Ini hari raya, kupinta maafmu," ulangmu lagi, mendesak.
"Kau salah apa?"
Diam jawabmu.
Tak bisa kuberikan maafku hari ini. Kupinjamkan saja, maka harus kau kembalikan.
Saturday, February 27, 2016
To Love is To Understand
No longer is it self-seeking, a sinking in the intoxication of happiness; instead it seeks the good of the beloved: it becomes renunciation and it is ready, and even willing, for sacrifice.

41 Every year Jesus’ parents went to Jerusalem for the Festival of the Passover. 42 When he was twelve years old, they went up to the festival, according to the custom. 43 After the festival was over, while his parents were returning home, the boy Jesus stayed behind in Jerusalem, but they were unaware of it. 44 Thinking he was in their company, they traveled on for a day. Then they began looking for him among their relatives and friends. 45 When they did not find him, they went back to Jerusalem to look for him. 46 After three days they found him in the temple courts, sitting among the teachers, listening to them and asking them questions. 47 Everyone who heard him was amazed at his understanding and his answers. 48 When his parents saw him, they were astonished. His mother said to him, “Son, why have you treated us like this? Your father and I have been anxiously searching for you.”49 “Why were you searching for me?” he asked. “Didn’t you know I had to be in my Father’s house?”[a] 50 But they did not understand what he was saying to them.51 Then he went down to Nazareth with them and was obedient to them. But his mother treasured all these things in her heart. 52 And Jesus grew in wisdom and stature, and in favor with God and man.
And Jesus grew in wisdom and stature, and in favor with God and man. Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.
"You may not always like your family, but you will always love them."
Thursday, February 18, 2016
To All The Living Stones Out There
When you don't know that you MIGHT not know anything.
When you act as if you're the most hurt person in the world,
And that's when you will start acting like a smartass,
That's when your head and heart start hardening,
Tuesday, February 16, 2016
Strong Mothers Are Strong
"Sometimes, I felt like my mom was an embarassment. There were times when I couldn't understand why she doesn't seemed to have self-consciousness or a sense of pride, and I got angry. I didn't realize it then, but it was because there was something precious that she wanted to protect more than herself, and that is me. When true love manifests, it doesn't allow one to be concerned over one's pride, and causes one to cast it aside. That's why mothers are strong. They say God created mothers because they can't be everywhere at once. Even when one becomes a mother, one's mother is one's guardian angel, and even saying the word 'Mom' is something that has the power to tug at one's heartstrings. Mothers are always strong."
There goes the saying, "You wouldn't know what it feels like to be a mother until you become one." Thank you Reply 1988 for giving us the slight insight of what it feels like to be a mother. Mothers are prideless. Mothers are selfless. Mothers are strong.
It would not be perfect without John Mayer's quote of course.
"And girls become lovers, who turn into mothers. So mothers be good to your daughters too."
Godspeed.
Monday, February 15, 2016
Don't
Bukan salah anak konglomerat kalau dia punya banyak uang.
Bukan salah orang yang luwes kalau dia punya banyak teman.
Bukan salah orang yang pandai kalau dia punya banyak pengetahuan.
Bukan salah orang yang rajin bekerja kalau dia tidak punya banyak waktu.
Bukan salah orang yang menarik kalau dia punya banyak penggemar.
Bukan salah orang yang tulus kalau ia bisa mencintai dengan sederhana.
Selama mereka tidak menyakitimu, apakah kelebihan mereka itu menjadi dosa?
Jangan gunakan kelebihan orang lain sebagai alatmu untuk menyakiti mereka.
Jangan jadikan kelebihan orang lain sebagai pembenaranmu saat menyakiti mereka.
Orang-orang itu juga punya hati. Entah hati itu mati atau tidak, bukanlah hak siapapun untuk menyakitinya.
Wouldn't it be nice to consider these once in a while?
Godspeed.
Saturday, February 6, 2016
Hanny's Dictionary: Situasu
\di depanku lidahmu kaku tak berkata,
di belakangku luweslah ia meliukkan cerca\
Sunday, January 10, 2016
Home - Short Story
He held it so tight, so tight it makes me feel like nothing could ever hurt me tonight. No, not only tonight, ever.
After ten minutes of pushing ourselves through the crowd, we finally made it out to an open space facing the nearby woods, probably 100 feet away from the clustered tents.
We smelled like hot dogs, buffalo wings, and cotton candy all mixed into one.
We laughed at how silly we were, two creatures who are afraid of the crowds, decided to jump straight into a pool of one.
We sat on the grass, looking away to the several kids playing football near the tents.
Their parents were not seen anywhere nearby, so I suppose they're the children of the market tenants.
Some of the bigger kids joined in and the game started to heat up.
After a while they got tired and went back into the tents.
We were left with nothing to see but the clear black sky.
The sky was starless. You cannot really expect to see stars in the middle of the city like this.
We stayed still for five minutes, and then ten, fifteen, and an hour went by without us saying a word.
Our hands kept holding each other as if they were afraid of getting lost.
Spellbound by our own thoughts, we did not mind.
And it was right there alongside the cheerful crowd not too far away.
It was right there in the middle of that comfortable warm silence.
There and then I knew, I was home.
