Thursday, November 22, 2012

With You

With you, I always feel like I was never enough
I always question myself more than I supposed to
I always feel like my life is hanging on by a thread
I always wonder why does love have to be this complicated

With you, I was scared of myself
I was scared of all the decisions I make
I was scared of every little simple steps I take
I was never able to see things clearly

With you, I felt so fragile and small
I felt like a trash ready to be burned away anytime
I felt like a little girl on a seesaw
I felt like there's no certainty in life

But still..I thank Him for having put you in my life
With you, I realize that the world isn't exactly as I thought it was
I realize just how much stronger I could be
I realize just how much people care about me

So..thank you, You. Yes, You. :)
Godspeed.

-Happy Thanksgiving 2012-

Wednesday, November 21, 2012

Tentang Telinga

Kadang-kadang lo laku jadi tempat curhat orang-orang terdekat bukan karena lo pendengar yang baik, atau pemberi nasehat yang baik, tapi karena orang-orang mikir kayaknya lo yang paling ga punya masalah dari orang-orang lain yang ada di lingkungan pertemanan lo. Sehingga temen-temen lo akan terus menerus curhat ke lo tanpa menyadari bahwa lo juga sama kayak mereka yang suatu saat akan menghadapi masalah seperti yang sedang mereka hadapi.

Dan, ketika lo punya masalah, lo akan ngerasain ini semua. Bahwa semua orang udah terlalu sibuk dengan masalahnya masing-masing, dan lo akan merasa ga enak untuk membebani mereka semua dengan masalah lo yang (mungkin) lebih sepele dibandingkan dengan masalah mereka. Bahwa saat lo cerita ke mereka, lo cuma pengen direspon, lo ga perlu solusi, lo cuma butuh telinga. Bahwa ternyata ga semua orang bisa mengerti dan mau bersimpati sama masalah lo karena ya..itu bukan urusan mereka. Karena sesungguhnya orang yang rela meminjamkan telinganya saja, ya hanya telinga saja, adalah orang yang mulia.

Thursday, August 30, 2012

A Cheesy Summer Experience

I just graduated, baby! And now am on a job hunt. So I'm posting this right here, that I, Bernardine Stefani, 21 years old, a bachelor in China Studies of University of Indonesia, am looking for a job. Anyone interested in hiring me can contact me straight away! Haha.

By the way, this June to August, I worked as a Mini Club part-timer again, but this time in Club Med Bintan Island. It was fun and I really love it! It's amazing how nice strangers can be, and how nice the parents of the children I took care of are to the Mini Club GOs. They are all amazing people from all different kinds of nationalities. Argentine, Australian, USA, China, Hongkong, Korea, Italian, France, and a lot of many other countries, you name it.

And because I specialize in Chinese language, so I automatically did contacts a lot with Chinese-speaking parents ('Chinese Mommy' so did my boss called me), and I gotta say this time, they're really nice! Special shout out to the mommies of Di Han and Yu Tong from Tianjin, LuLu's parents from Beijing, Steve Han's parents from Shanghai, if you ever come across this petty blog of mine, I just wanna let you know that you made my stay in Bintan memorable, and you have wonderful kids. They are going to grow up to be beautiful people inside and out. 

Not to mention Park Se Hoon, who made me cry on his departure day. That day I realize just how much I love kids. And also thank you to Jaeden Tsai, a special 5 years old boy who made my last week working in Bintan so fun and cheesy!

I know it's really cheesy to do this on the blog like this, but what more can I say, I really love the experience I had in Bintan. I love ALL the kids. And the stupid me also somehow never asked to exchange emails and always regretted it afterwards. Now only God knows when can I meet those wonderful people again..I'm just crossing my fingers and wishing that someday, they would see this post and hopefully remember me, and say a little 'hi' :)

 Jaeden! A very lovely and energetic kid <3 p="p">

 Steve Han, a Chinese boy who has a Korean style hair-do. Me and my friend, Iris, called him Goo Jun Pyo (a character from Boys Before Flowers) and the funny thing was, he kept turning his head everytime we call him that. Heeheehee.

Se Hoon Park and Jasmine Park.These two are really smart, funny and friendly! I cried on their departure day. They're soooo lovable.

Next, is all the new friends I made. I cannot even start to describe by words just how amazing they are. We are friends forever, okay?? Because I cannot live without you, guys....*puke* Naaahh just kidding, I really love you guys. I love your cheesiness and I will remember you and our Q-Bar always!



Long story short, I felt a lot of love this summer, and I love it. I love looooveeeee. So cheezy...Okay, back to the hunt, Godspeed.

Thursday, June 7, 2012

Four Years

Ga kerasa udah empat tahun gue habiskan untuk menulis di blog ini. Meski kadang bolong-bolong dan kurang taat dalam menjalaninya, tapi gue selalu bersyukur punya blog ini. Karena kapan dan di mana lagi lo bisa dengan bebas ngomongin tentang diri lo sendiri, apa yang lo suka dan lo benci, ngulik diri lo sendiri sedalem-dalemnya, kalo bukan di blog lo sendiri? Emang sih ada aja orang-orang yang mau dengerin, tapi ga setiap saat mereka mau kan? Blog ini udah kayak temen baik gue, yang paham banget sama setiap inci perasaan yang gue lewati. Aduh kasian yah temen baiknya bukan orang, tapi blog! Hahaha gak papa sih, I realize that I'm not  that articulate in expressing my feelings anyway.

Ga kerasa juga udah empat tahun gue menghabiskan waktu di bangku perkuliahan, which is great if I might tell you. Salah satu temen gue di kosan gue yang lama pernah bilang gini, "Menurut gue tuh mahasiswa UI ga pinter-pinter luar biasa banget, tapi kita cuma beruntung bisa masuk sini." Bener banget sih menurut gue. Gue ga merasa pinter-pinter banget pas ngerjain soal UMB, yang jawaban 25 soal matematikanya, pure gue jawab dengan cara cap-cip-cup belalang kuncup. Ya, gue bener-bener beruntung bisa kepilih masuk sini dari sekian ribu orang yang mendaftar dari sekian banyak propinsi. Ga peduli seberapa bobroknya internal kampus kuning gue ini, tapi tetep aja ga bisa lo ingkari, pada bangga kan bisa masuk salah satu universitas pionir dan tertua di Indonesia?

Satu hal yang gue paling ga terima banget dari dulu sampai sekarang adalah orang-orang yang bilang kuliah sastra tuh gampang. Itu doang sih. Gue ga peduli tentang stereotipe lainnya tentang anak sastra, cuma satu ini aja yang bikin agak dongkol. Mungkin sih peluang masuk sastra itu memang lebih besar karena peminatnya lebih sedikit. Tapi coba deh kamu masuk dulu. Yakin bisa keluar dengan mudah? Sementara kita tahu segala sesuatu yang masuk, harus keluar biar enak..kayak perasaan misalnya..*eyaaaak*

Yang pasti entah kenapa, empat tahun ini terasa berlalu begitu cepat. Mungkin karena gue ga pengen cepat-cepat melewatinya kali ya. Nungguin semua UAS selesai dan nilai-nilai keluar itu adalah hal yang paling bikin gue deg-degan sekarang. Semoga gue bisa tetep 'Keep Calm and Graduate 2012.' Godspeed!

Tuesday, June 5, 2012

Teman Kuliah

Kita semua pasti pernah punya salah satu atau bahkan lebih dari teman-teman semacam ini saat kuliah

1. Teman merendah untuk ditinggikan. Jelas-jelas dia paling pinter sekelas, tapi giliran ujian tiba, bukannya ngehibur temen-temen, dia malah ikutan ngeluh, dalam beberapa kasus bahkan dia lebih banyak ngeluhnya. Namun, ketika hasil ujian keluar.....*jeng jeng*

NILAINYA PALING BAGUS SEKELAS

Kadang-kadang juga kasusnya adalah tentang tampang. Jelas-jelas dia kece, tapi selalu ngeluh tentang betapa buruk rupanya, atau betapa gendut perutnya.Teman-teman macam begini ini biasanya...MINTA DIPUJI LEBIH JAUH LAGI.

2. TMT atau Teman Makan Teman. Saat hang out cerah ceria, dia selalu minta diajak dan mudah merajuk jika tidak diajak, namun ketika tiba saatnya waktu ujian...*jeng jeng*

DIA UDAH NGETAG TEMPAT DI SEBELAH ANAK TERPINTER DI KELAS DAN GA NGETAGIN KAMU

Kalau hal ini udah terjadi, yang sebaiknya kamu lakukan adalah, minta izin keluar kelas, pergi ke kantin pinjam pisau, balik lagi ke kelas, bunuh dia.

3. Teman lingkaran setan. Dia bisa sering ataupun jarang dalam meminjam uang kamu, namun yang bikin keki adalah ketika tiba saatnya kamu menagih uangmu...*jeng jeng*

DIA MALAH LEBIH NYOLOT

Kalau udah begini yang harus kamu lakukan adalah pergi sebentar ke kantin, pesan kopi hitam hangat, balik lagi, siram ke mukanya.

Yak, gimana? Apakah kamu punya teman-teman seperti itu? Atau apakah kamu merasa salah satu, salah dua, atau semua deskripsi di atas cocok dengan dirimu? Kalau iya, selamat kawan, kamu telah merasakan yang namanya persahabatan kuliah yang menakjubkan dan indah berwarna. Kalau belum, yah..coba lagi, kamu pasti bisa! Godspeed!

Sunday, June 3, 2012

Rindu

Di sela-sela buku yang berdebu
Di antara lembaran-lembaran kertas yang menguning
Di sudut-sudut rumah yang remang
Di atas bercak memori yang memudar

Di situlah aku

3 Juni 2012, 01.02



Sunday, May 27, 2012

Teruntuk Calon Keluargaku

Karena begitu banyaknya kehebohan yang terjadi di Twitter sehabis pengumuman penerimaan mahasiswa baru UI 2012, saya memutuskan membuat post ini. Saya akan menceritakan pengalaman saya selama berkuliah di Sastra Cina Universitas Indonesia, mulai dari masuk sampai sekarang.

Pertama, kenapa sih saya pilih Sastra Cina UI? UI, jelas. Nama UI sebagai universitas nomor satu di Indonesia sudah terkenal sejak dulu. Sastra Cina? Well..sebenarnya Sastra Cina pun hanyalah pilihan kedua saya. Pilihan pertama saya adalah Komunikasi dan saya gagal diterima masuk. Namun tidak masalah. Waktu itu dan sampai sekarang, saya lebih fokus pada cita-cita saya yaitu menjadi wartawan, jalur manapun yang saya tempuh sama saja selama itu masih bisa berkesinambungan dengan upaya saya menggapai cita-cita. Saat ini, Cina bisa dibilang sebagai negara berkembang yang sedang membuka diri terhadap segala-galanya, sehingga saya optimis bahwa pilihan saya adalah pilihan yang tepat.

Kuliah di sini membuat saya merasa bersyukur akhirnya keluar dari lingkungan yang homogen, bertemu banyak teman yang beragam, dan saling mempelajari satu sama lain. Saya bersekolah di SMP-SMA swasta yang lingkungan pergaulannya terlalu homogen, sehingga bisa dibilang masuk Universitas Indonesia membuat hidup saya lebih berwarna. Dalam segala aspek. Hidup di kosan sendiri, harus mengatur waktu dan keuangan sendiri, juga membuat saya belajar. Saya tidak menganggap ini sebagai suatu beban, melainkan privilege dari Semesta. Tidak banyak manusia yang diberikan privilege seperti ini. Ada yang menghabiskan seluruh masa mudanya dimanja orangtua, selalu diurus oleh orang rumah, dan saya adalah salah satu anak yang akan berakhir seperti itu, seandainya saja saya tidak masuk UI.

Di tahun kedua, saya dipercaya untuk menjabat sebagai ketua himpunan mahasiswa jurusan Cina, yaitu IMSi. Ikatan Mahasiswa Sinologi. Alhamdulilah alhamdulilah..tapi ternyata...jadi ketua itu..gak gampang. Ngerangkul orang-orang yang apatis itu lebih susah dari nyari kutu. Selain itu saya anaknya juga mageran. Tapi alhamdulilah lagi, ternyata perasaan dipercaya dan diberi tanggung jawab itu luar biasa. Dengan bantuan segenap angkatan 2008 yang saat ini sedang menjabat sebagai kakak tertua pun, saya merasa usaha kami kemarin menyatukan berbagai angkatan cukup he'eh. Gak bisa dibilang berhasil juga, karena berhasil atau nggak itu relatif, namun menurut relativitas saya, ya kami cukup sukses :D

Itu tadi dari segi kehidupan non-akademis. Kalau dari segi kehidupan akademis, kepada semua calon mahasiswa/i sastra Cina UI, baik yang udah diterima atau baru niat mencoba masuk sini, jangan down dulu kalau melihat komen berbau negatif tentang kuliah di sastra Cina. Kehidupan perkuliahan emang susah. Semua mata kuliah ya pasti aja ada susahnya. Kalo gak mau susah ya, jangan kuliah. Leha-leha aja di rumah, sesekali keluar cari makan, siapa tahu ada yang buang ye kan. Satu hal yang pasti, jangan pernah takut gagal atau takut susah. Jadilah orang yang pamrih. Dalam artian begini, orang yang mau susah dan berani gagal akan dapat imbalan yang lebih besar daripada orang yang ogah susah dan takut gagal. Jadi kejarlah imbalan itu, jadilah pamrih! Saya ngomong gini bukan berarti saya orang termau susah dan terberani gagal se-sastra Cina UI, tapi karena saya merasa hanya itulah satu-satunya kriteria ideal untuk orang yang mau kuliah di Sastra Cina UI (sebenarnya kuliah di manapun sih, cuma karena saya cuma pernah kuliah di SasCin UI ya saya ga berani tulis 'kuliah di manapun' hehehe).

Ya udah sih gitu aja. Santai aja masbro mbaksis. Saya cabut dulu, ga bisa lama-lama main internet, harus belajar Bahasa Cina Modern, Bahasa Cina Klasik, Historiografi, Sejarah Cina Kontemporer, Dasar-dasar Pemikiran Cina, Pengkajian Kesusastraan..*fade out, away masuk gua* Godspeed.

Sunday, April 8, 2012

Let Me In, Please


Setelah sekian lama rilis di bioskop, baru kemarin gue nonton Let Me In di dalam bentuk DVD. Seperti sering gue ceritakan sebelumnya, gue memang sangat suka film-film dan buku-buku yang berbau vampir. Mulai dari vampir Cina, vampir Eropa, sampai vampir FTV macam Twilight semuanya dengan senang hati gue jabanin. Sayangnya cuma bikin skripsi tentang vampir aja yang belum mampu atau mungkin belum mau gue jalani. Ha.

Yang pasti gue suka banget dengan tone horor yang dipilih film ini, kalo ala sotoy-sotoyan gue sih, mengingatkan gue akan film-film horor Asia, and I like it. *meme Rianti Cartwright lagi senyum* Akting Chloe Moretz dan Kodi Smit-McPhee pun terasa pas, innocent, dingin, dan asik lah pokoknya. Meskipun sekali lagi, hal yang selalu ingin gue lihat saat menonton penampilan duo pemeran utama dalam suatu film romantis adalah, mereka harus terlihat seperti sepasang kekasih, bukannya orangtua dan anak, atau kakak dan adik. Hal ini gak gue dapatkan di serial Korea The Moon That Embraces The Sun dan kali ini di Let Me In juga.

Let Me In membuat gue penasaran mau nonton Let The Right One In, film Swedia yang diadaptasi Matt Reeves menjadi Let Me In. Juga semakin membuat gue yakin bahwa gue memiliki ketertarikan yang aneh akan hal-hal yang berbau darah. Dan keabadian. Hmm. I heart vampires lah ya pokoknya. Godspeed.
Chloe Moretz. Aquarius. Agak mirip Rachel McAdams. Dan sepertinya gedenya akan cantik sekali. Lebih cantik dari gue.
Kodi Smit-McPhee. Gemini. Dan sepertinya gedenya akan lebih cantik dari gue. Juga.

Friday, March 23, 2012

Standar Kecantikan Indonesia

Beberapa hari yang lalu gue, emak dan kakak gue pergi ke seorang tukang jahit kenalan emak gue. Katanya sih doi emang spesialisasiongnya bikin baju buat orang yang ga kurus (gue ga gemuk ya...cuma ga kurus).

Begitu dateng di tempat si tante, sebut sajalah namanya tante Atiek (Atiek CB kali mak), doi langsung berbicara mengenai apa saja yang ada di pikirannya, sampai-sampai gue berpikir, jangan-jangan orang ini asperger ringan.

Tante Atiek pun mengomentari bagian belakang gue yang emang agak semlohai layaknya gitar Fender Stratocaster American Deluxe Series (apalah ini, bebas) sambil menepuk-nepuknya. Dalam hati gue berpikir, huh sayang dia seorang tante, bukan om.

Setelah itu, doi pun lanjut mengomentari kecantikan anak-anaknya nyokap gue.
"Tapi anaknya ini cakep-cakep semua loh, biar gede-gede badannya, tapi cantik mukanya. Hidungnya semuanya hidung hoki loh nih. Iya loh ci, anaknya yang ini," noleh ke kakak gue, "cantik loh mukanya."

Setelah itu doi menoleh ke gue dan berkata, "Kalo yang ini emang item ya kulitnya, ikutin papanya kali ya," doi berkata dengan nada yang sedikit condescending seakan berkata, 'putihin dikit kulitnya bisa kale.'

Pak dung dung pak dung pak dung pak! Mak terus napa mak kalo kulit akika item...napa mak? Napa?? Napa?? Selain karena emang campuran anak Cina-Flores, gue anaknya juga sporty dan atletis, senang bermain di bawah matahari, apalagi main layangan di pinggir rel kereta sama nonton Inbox live di siang bolong. Lagian menurut riset terpercaya, kulit masyarakat negara tropis emang lebih bagus berwarna gelap untuk menghindari terserapnya sinar-sinar jahat matahari dan mengurangi resiko kanker kulit.

Oke jangan pusing dulu. Mari kita tanya Galileo.

Masih inget peribahasa Barat 'the grass is always greener on the other side' kan? Nah mungkin ini berlaku juga buat orang Indonesia. Sampai-sampai ada iklan rokok yang makin menegaskan bahwa kebiasaan orang Indonesia tuh kayak kambing-kambing yang ada di iklan itu. Liat halaman sebelah rumputnya lebih banyak dan ijo, langsung mengkambingbuta pindah ke halaman sebelah, padahal belum tentu rumput yang ijo itu lebih enak dari rumput sendiri.

Sedihnya, ya emang ga bisa pukul rata sih, tapi kebanyakan dan rata-rata standar kecantikan bagi orang Indonesia itu adalah kulit putih. Seorang teman wanita mengakui bahwa standar kecantikannya bagi sesama wanita ya memang adalah kulit putih. Mau sejelek apapun mukanya, kalo putih pasti cakep. Seorang teman wanita yang lebih ekstrem lagi mengatakan bahwa seleranya semenjak masuk UI berubah. Sekarang kalau liat cewek putih dikit, pasti dibilang cakep. Kalo dulu, model cewek macam gue ini bisa aja dia bilang cantik. Sedih ya, mau nyanyi ah. Cukup sekali aku merasakan..kegagalan kulit.. *brb suntik vitamin C*

Gue belum berani membandingkan dengan keadaan di Inggris atau Amerika, karena emang belum pernah ke sana. Tapi denger-denger sih emang katanya mbak-mbak di sana juga kepengen banget kan punya kulit tanned kayak orang-orang Indonesia? Makanya ribet-ribet berjemur, terus sampe banyak tanning salon di mana-mana. Jessica Simpson ama Paris Hilton aja sampe rela terus-terusan keliatan seperti wortel kematengan, semua demi kulit tanned yang terlihat sehat seperti baru dicium matahari ala-ala wanita Asia Mongolian.

Bedanya dan enaknya, mereka yang berkulit putih dari sononya, dengan gampang bisa menghitamkan kulit. Kita yang kulitnya coklat dari sononya lebih susah lah ya buat mutihin kulit. Susu aja bisa langsung jadi ungu karena nila setitik, tapi emang nila setitik bisa jadi putih begitu dicampurin susu sekolam?

Obsesi para perempuan Indonesia untuk memiliki kulit putih nan bersinar ala-ala mutiara pantai selatan, mungkin karena patokan kita akan segala hal yang bagus itu adalah hal-hal yang berasal dari Barat. Udah keliatan dari iklan sampo juga. Kenapa ahli pakar rambutnya harus si bapak Bule, yang sebut saja namanya Thomas Waw? Kemana Rudi Hadisuwarno sama Johnny Andrean? Di gathering event Coach Surfing baru-baru ini yang diadakan di Jakarta, turis bule terbukti lebih banyak disamperin daripada turis Jepang yang kulitnya, yah, agak-agak sebelas-dua belas lah sama kita, kuning-kuning kunyit asem. Nama mall-mall sekarang pasti harus selalu berbau 'City' atau 'Plaza' atau 'Town'? Ga bisa pake 'Kota' atau 'Pusat' aja? Bapak ibunya matanya belo, kulitnya coklat, tapi nama anaknya Jennifer, Jessica, Janice, Dylan, Ethan, Brandon. Kenapa nggak Arjuna, Adaninggar, Agni, Ambarawati?

Delapan dari sepuluh laki-laki teman sepermainan gue mungkin akan menjawab cakepan Julie Estelle saat harus memilih antara Julie Estelle dan Anggun C.Sasmi. Ini adalah sebuah survey yang belum sempat gue lakukan namun akan gue laksanakan begitu sudah mulai bersekolah kembali. Kenapa Julie? Mungkin karena Julie bule. Mungkin karena Julie putih.

Karena ya yang bagus selalu dari negara dunia kesatu. Negara-negara Amerika dan Eropa. Seenggaknya itu sih pemikiran mayoritas yang akhirnya gue simpulkan dari analisis sotoy-sotoyan gue seorang.

Intinya sih, kenapa pembicaraan gue jadi muter-muter, intinya sih cuma ngomongin warna kulit doang sih ya..bagi gue, pernyataan bahwa standar kecantikan orang Indonesia itu cuma satu yaitu kulit putih bukanlah suatu stereotyping tanpa alasan, karena toh pada kenyataannya biasanya memang seperti itu. Pendapat mayoritas tetaplah pendapat mayoritas dan itulah yang akhirnya membentuk suatu standar.

Semoga orang-orang dengan kulit Indonesia aseli seperti gue dan teman-teman sesama rakyat Indonesia yang lain tetap memiliki tempat khusus di hati para pemirsa sekalian. Kami ini layaknya warna pink. Warna yang pada awalnya adalah warnanya lelaki, dan kemudian ditukar paksa sebagai warna ciri khas perempuan, dan kemudian saat hendak digunakan kembali oleh laki-laki, dipandang sebagai sesuatu yang tak lazim cenderung menjijikkan. Janganlah kalian lupa, cokelat, hitam, dan kuning adalah warna asli orang Indonesia. Izinkan kami mengenakannya dengan rasa damai dan bangga.

Godspeed.

Monday, March 19, 2012

The Lost Longing

Kepada rasa rinduku yang hilang dibawa angin
yang menyampaikannya kepada orang yang salah
yang menafsirkannya sebagai sebuah rasa yang aneh
yang membuatnya berangan jauh tak berpijak di bumi
yang menolak memanggilnya kembali atas nama gengsi
yang membuat rasa rinduku hilang dibawa angin

Kumohon kembalilah.